• Turun Ke Lapangan

    Bersama Menteri Pertanian Suswono, mengunjungi petani bawang di Cirebon.

  • Turun Ke Lapangan

    Bersama Menteri Pertanian Suswono, mengunjungi petani bawang di Cirebon.

  • Banjir Banten

    Berdiskusi dengan Menteri Pertanian Suswono dan Asda II Husni Hasan di areal persawahan di Desa Undar Andir Kecamatan Kragilan Kabupaten Serang , 22 Januari 2013.

  • Menjadi Narasumber Workshop

    Narasumber dalam Workshop Evaluasi Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP), di IPB International Convention Center tanggal 8 Agustus 2012 .

  • Bersama Petani Menes

    Dengan Kelompok Tani Penerima UPPO di Menes, Kabupaten Pandeglang Oktober 2011.

  • Kunjungan Daerah

    Silaturrahim Bersama Anggota DPRD Provinsi NTB, September 2011.

  • Bersama Peternak Sapi

    Mengunjungi Peternakan Sapi Potong dan Sapi Perah di Lembang, Jawa Barat.

  • Bersama Peternak Kerbau Pandeglang

    Syamsu Hilal bersama Anggota DPRD, pejabat Dinas Peternakan Kabupaten Pandeglang, penyuluh lapangan serta peternak Desa Telagasari Kecamatan Saketi penerima program UPPO Kementerian Pertanian.

  • Pembahas Evaluasi Kinerja

    Menjadi pembahas dalam acara Evaluasi Kinerja Penyuluhan Pertanian di Hotel Horison Bekasi, 27 September 2012.

  • Berkunjung ke Baduy

    Leuit Baduy memiliki kesamaan dengan LDPM Badan Ketahanan Pangan Kementan.

  • Sidang Tahunan APEC

    Salah satu delegasi untuk memperkenalkan produk pertanian Indonesia.

  • Bertandang ke Jepang

    Ditengah areal persawahan salah satu sentra padi di Jepang.

  • Bersama Peternak Sudan

    Memenuhi undangan dari Pemerintah Sudan terkait kerja sama dan alih teknologi pertanian.

Bekerja untuk Meraih Kemenangan

7 Feb 2013 0 comments

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’-lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan 77. Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan” (QS Al-Hajj: 177).
Kemenangan atau kejayaan suatu umat tidak akan pernah datang begitu saja dengan tiba-tiba. Datangnya sebuah kemenangan pasti mengikuti aturan atau kaidah-kaidah yang telah dijelaskan Allah Swt. di dalam Al-Qur`an. Aturan-aturan kemenangan itu dijelaskan Allah secara gamblang agar dipelajari, diketahui, dan diperhatikan oleh orang-orang beriman.
Kata kemenangan dalam Al-Qur’an sering menggunakan kata aflaha, tuflihuun, atau muflihuun. Kata aflaha yuflihu menurut kamus bahasa Arab memiliki arti menang, jaya, berhasil maksudnya, sukses (lawan gagal). Kata muflih berarti yang menang atau yang berhasil maksudnya. (Mahmud Yunus, 1973:323).
Kata tuflihun terambil dari kata falaha yang juga digunakan dalam arti bertani. Penggunaan kata itu memberi kesan bahwa seorang yang melakukan kebaikan, hendaknya jangan segera mengharapkan tibanya hasil dalam waktu yang singkat. Ia harus merasakan dirinya sebagai petani yang harus bersusah payah membajak tanah, menanam benih, menyingkirkan hama, dan menyirami tanamannya, lalu harus menunggu hingga memetik buahnya (M. Quraish Shihab, Vol-9, 2002:130 – 131).
Al-Maraghi (Juz 17, 1993:262) menafsirkan ayat ini sebagai berikut, “Wahai orang-orang yang mempercayai Allah dan rasul-Nya, tunduklah kepada Allah dengan bersujud, beribadahlah kepada-Nya dengan segala apa yang kalian gunakan untuk menghambakan diri kepada-Nya, dan berbuatlah kebaikan yang diperintahkan kepada kalian, seperti mengadakan hubungan silaturahmi dan menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, supaya kalian beruntung memperoleh pahala dan keridaan yang kalian cita-citakan.”
Prof. Dr. Hamka (Juz 17, 1981:257) berpendapat, “Wahai orang-orang yang beriman, rukuk dan sujudlah kamu dan sembahlah Allah kamu. Maksud ketiga perintah itu adalah shalat. Karena di antara ibadah teguh hendaklah shalat. Supaya shalat bertambah khusyu’ hendaklah iman. Iman adalah ketundukan akal. Shalat adalah memperdalam perasaan. Rukuk dan sujud itu adalah melatih rasa tunduk. Menyembah Allah dengan tunduk akan segala perintah dan menghentikan apa yang dilarang. Shalat adalah ibadah yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah. Berbuat kebajikan ialah meneguhkan hubungan dengan sesama manusia dengan menghubungkan silaturahim dan menegakkan budi pekerti yang mulia. Supaya kamu mendapat kemenangan, kemenangan yang dicapai dengan teguh beribadat kepada Allah yang berpangkal dengan ruku’ dan sujud, tegasnya dengan shalat yang diimbangkan dengan kesukaan berbuat kebajikan, adalah kemenangan di dunia akhirat. Di dunia hati lapang, pikiran tidak tertubruk, ilham Allah datang, dan pergaulan luas. Di akhirat ialah surga yang dijanjikan Allah.”

Kaidah Kemenangan
Banyak orang memahami kemenangan sebagai lawan dari kekalahan dalam arti sempit. Padahal Allah Swt. telah menegaskan di dalam Al-Qur`an bahwa barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka itulah kemenangan hakiki. Oleh karena itu, syahidnya para pejuang Islam dalam medan pertempuran bukanlah sebuah kekalahan, justru sebaliknya hal itu adalah salah satu bentuk kemenangan. Ada tiga kaidah kemenangan yang akan dijelaskan dalam tulisan ini.
Kaidah pertama, sesungguhnya kemenangan itu hanya dari Allah Swt. Oleh karena itu, siapa yang mendapatkan pertolongan dari Allah Swt., ia tidak akan pernah terkalahkan, meskipun para musuh bersatu dalam satu barisan untuk menyerang dirinya. Sebaliknya, barangsiapa dibiarkan oleh Allah dan tidak mendapat pertolongannya, maka ia tak akan pernah sedikit pun meraih kemenangan, meskipun ia memiliki kekuatan besar dan tangguh.
Kaidah-kaidah kemenangan tersebut dijelaskan Allah Swt. secara gamblang dalam firman-Nya,
“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu'min bertawakkal” (QS Ali Imran: 60).
Pada tahap tertentu, Allah Swt. sering pula memberikan pertolongan-Nya kepada sekelompok kaum yang sedikit hingga mereka dapat mengalahkan kelompok yang lebih besar jumlah dan kekuatannya. Hal ini terjadi, seperti ketika Allah Swt. menolong para pengikut Thalut saat menghadapi balatentara Jalut yang jumlahnya lebih besar.
Saat itu, para pengikut Thalut sempat ragu tatkala melihat besarnya kekuatan dan jumlah pasukan Jalut. Bahkan mereka telah berkata,
"’Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.’ Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar’” (QS Al-Baqarah: 249).
Allah Swt. juga pernah menurunkan pertolongan-Nya kepada seseorang yang tidak memiliki tentara dan senjata sedikit pun, sehingga ia dapat mengalahkan para musuhnya. Orang yang mengalahkan hal itu tak lain adalah Rasulullah Saw. sendiri, yaitu pada saat beliau berada di dalam sebuah gua bersama salah seorang sahabatanya. Peristiwa ini dikisahkan Al-Qur`an,
“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (At-Taubah: 40).
Kaidah kedua, sesungguhnya Allah Swt. tidak akan menolong seseorang kecuali dirinya selalu menolong agama Allah. Artinya, siapa yang menolong agama Allah, maka Allah pun akan memberikan pertolongan kepadanya. Kaidah ini disebutkan Allah Swt. di dalam Al-Qur`an,
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad: 7).
Ayat di atas kemudian dipertegas lagi oleh Allah Swt. dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (QS Al-Hajj: 40).
Berdasarkan kedua ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa pertolongan Allah akan diberikan kepada siapa saja yang selalu menolong agama Allah, meninggikan kalimat-Nya, dan melaksanakan syariat-Nya dalam kehidupan.
Kesimpulan ini diperkuat lagi dengan penjelasan Allah Swt. tentang keadaan orang-orang yang selalu menolong agama Allah.
“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” (QS Al-Hajj: 41).
Pada ayat lain, dijelaskan juga bahwa pertolongan Allah hanya akan diterima orang-orang yang beriman atau orang-orang yang selalu berjuang di jalan-Nya. Hal ini menandakan bahwa iman adalah syarat mutlak untuk mendapatkan pertolongan Allah. Maka dari itu, barangsiapa beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya, orang tersebut pada hakikatnya telah menolong agama Allah dan menjadi bagian dari balatentara-Nya. Bekaitan dengan penjelasan ini, Allah Swt. berfirman, “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman” (QS Ar-Rum: 47).
Kaidah ketiga, sesungguhnya kemenangan atau pertolongan Allah akan diperoleh umat dikarenakan keberadaan orang-orang beriman di tengah-tengah mereka. Jika demikian halnya, maka pertolongan Allah hanya diperuntukkan bagi mereka yang beriman dan hanya diperoleh dengan keberadaan mereka. Berkenaan dengan kaidah ini, Allah Swt. berfirman,
“Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu'min” (QS Al-Anfal: 62).
Kadangkala Allah Swt. menurunkan pertologan-Nya kepada seorang hamba atau kaum melalui perantaraan berbagai kekuatan alam yang telah Allah perintahkan untuk membantu hamba atau kaum tersebut, atau Allah sendiri langsung menghancurkan para musuh-Nya. Hal ini terjadi sebagaimana telah diceritakan Allah dalam firman-Nya,
“Lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya” (QS Al-Ahzab: 9).
Kemudian, kita dapat saksikan juga pada saat Allah Swt. menurunkan hujan sebagai rahmat bagi kaum mukmin pada saat terjadi perang Badar. Peristiwa tersebut diceritakan Allah,
“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu)” (QS Al-Anfal: 11).
Pada saat yang lain, Allah juga pernah memberikan pertolongan kepada suatu kaum melalui perantaraan tangan-tangan musuh. Pertolongan seperti ini dilakukan Allah dengan meniupkan rasa takut ke dalam hati musuh orang-orang beriman. Karena rasa takut itulah, nyali dan keberanian mereka untuk melawan kaum yang beriman semakin surut. Peristiwa ini pernah terjadi dan dialami oleh Bani Nadhir sebagaimana dikisahkan Allah Swt. di dalam Al-Qur`an,
“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan” (QS Al-Hasyr: 2).
Sarana atau perantara datangnya pertolongan Allah atau sebuah kemenangan sangatlah banyak. Akan tetapi semua itu tidak lepas dari keberadaan orang-orang beriman. Artinya, orang-orang beriman dalam hal ini adalah tetap sebagai perantara atau penyebab utama turunnya kemenangan dan pertolongan Allah.
Para malaikat yang diperbantukan Allah pada perang Badar misalnya, tidak akan pernah diturunkan begitu saja. Allah Swt. berfirman,
“Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman” (QS Al-Anfal: 12).
Kemudian, pada saat terjadi perang Ahzab, Allah Swt. mengirimkan angin dan balatentara dari langit adalah ketika orang-orang beriman diuji dan diguncangkan hatinya dengan guncangan yang amat keras. Sementara itu, pada perang Hunain, Allah Swt. menurunkan ketenangan kepada Rasulullah Saw. dan kepada orang-orang beriman. Pada perang dengan Bani Nadhir, Bani Nadhir memusnahkan sendiri rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman.
Dalam jihad siyasi (perjuangan politik) yang saat ini tengah dilakukan umat Islam, setiap orang beriman dituntut untuk membuktikan keimanannya, yaitu berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan Islam melalui partai politik yang benar-benar memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Mari kita buktikan keberpihakan kita kepada Allah dengan cara menolong agama Allah atau menolong orang-orang yang memperjuangkan agama Allah melalui jalur politik.

Jalan Meraih Kemenangan
Di dalam AL-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 77, Allah Swt. Berfirman,
Hai orang-orang yang beriman, ruku’-lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabb-mu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan” (QS Al-Hajj: 77).
Ayat ini merupakan ayat kedua terakhir dari surah yang unik dan istimewa, surah Al-Hajj. Dikatakan surah yang unik karena sebagian ulama tafsir menggolongkan surah ini ke dalam kategori surah  Makkiyah, namun sebagian yang lain justru sebaliknya menggolongkannya ke dalam kategori surah Madaniyah. Surah ini juga unik karena di dalamnya ada dua ayat sajdah, yaitu ayat ke-18 dan ayat ke-77 ini seperti yang di pahami dari sebuah riwayat dari Uqbah bin Amir,
”Keutamaan surah al-Hajj karena terdapat dua ayat sajdah padanya. Barangsiapa yang tidak bersujud pada keduanya, janganlah ia membaca surah ini” (HR At-Tarmidzi dan Abu Dawud).
Ayat ini menggambarkan secara ringkas manhaj Allah Swt. untuk manusia dan beban taklif  bagi mereka agar mendapatkan keselamatan dan kemenangan. Ia di awali dengan perintah untuk ruku’ dan sujud yang merupakan gambaran gerakan  shalat yang tampak dan jelas, dilanjutkan dengan perintah untuk beribadah secara umum yang meliputi segala gerakan, amal dan pikiran yang di tujukan hanya kepada Allah Swt. sehingga segala aktivitas manusia bisa beralih menjadi ibadah bila hati ditujukan hanya kepada Allah Swt. bahkan Kenikmatan-kenikmatan dari kelezatan hidup dunia yang dirasakannya dapat bernilai ibadah yang di tulis sebagai  pahala amal baik .
Ayat ini di tutup dengan perintah berbuat baik secara umum dalam hubungan horizontal dengan manusia setelah perintah untuk membangun hubungan vertikal dengan Allah Swt., dalam shalat dan ibadah lainnya. Oleh sebab itu, perintah ibadah dimaksudkan  agar umat Islam selalu terhubung dengan Allah Swt. sehingga kehidupan berdiri di atas fondasi yang kukuh dan jalur yang dapat membawa kepada-Nya. Sedangkan perintah untuk melakukan kebaikan, dapat membangkitkan kehidupan yang istiqamah dan kehidupan masyarakat yang penuh dengan suasana kasih sayang.
Perintah ini dipertegas kembali di akhir surah Al-Hajj, bahwa umat Islam akan mampu mempertahankan eksistensinya  sebagai umat pilihan dan sebagai  saksi atas umat yang lain manakala mampu membina  hubungan baik dengan Allah Swt. dan membina hubungan baik sesama manusia,
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu[993], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong” (QS Al-Hajj: 78).
Pada ayat di atas, Allah Swt. memberi perintah kepada orang beriman agar mampu membangun kesalehan personal (hablum minallah) dan kesalehan sosial  (hablum minannas) secara bersamaan agar senantiasa memperoleh kemenangan. Ruku’ dan sujud merupakan cermin tertinggi dari pengabdian seseorang kepada Allah Swt., sedang ”berbuatlah kebaikan” merupakan indikasi kesalehan sosial.
Secara redaksional  dalam urutan perintah ayat di atas, ternyata Allah Swt. mendahulukan kesalehan personal dari kesalehan sosial. Ini berarti bahwa untuk membangun kesalehan sosial, harus dimulai dengan kesalehan personal. Atau kesalehan personal akan memberikan kekuatan untuk saleh juga secara sosial. Bahkan seluruh perintah beribadah kepada Allah Swt. dimaksudkan agar lahir darinya kesalehan sosial, seperti shalat misalnya, bagaimana ia bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar,
“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan)  keji dan munkar” (QS Al-Ankabut: 45).
Kisah yang diabadikan oleh Rasulullah Saw. dalam sebuah haditsnya bagaimana seorang wanita yang saleh secara personal yang diwujudkan dengan ibadah shalat, puasa dan ibadah mahdhah lainnya namun ternyata Rasulullah Saw. menyatakan bahwa ia dalam neraka. Karena ternyata kesalehan itu tidak membawanya menuju kesalehan sosial, bahkan ia cenderung tidak mampu menjaga lisannya dari tidak melukai hati orang lain.
Dalam tataran tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, terdapat beberapa hubungan dan korelasi (munasabah) yang sangat erat antara kesalehan personal dan sosial dengan nilai-nilai mulia dari ajaran Islam. Untuk menggapai predikat ihsan misalnya, seseorang dituntut untuk mampu sholeh secara individu dan sosial yang diwakili dengan shalat malam dan berinfak,
“Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (QS Adz-Dzariyat: 16-19).
Ibnu Asyur mengomentari ayat ini dengan menjelaskan bahwa dua bentuk amal inilah yang sangat berat untuk dilakukan karena: pertama, bangun malam merupakan sesuatu yang sangat berat karena mengganggu istirahat seseorang. Padahal amal itu merupakan amal yang paling utama untuk membangun kesalehan personal seseorang. Kedua, amal yang melibatkan harta terkadang sangat sukar untuk dipenuhi karena manusia pada dasarnya memiliki sifat kikir dengan sangat mencintai hartanya. Di sinilah Allah Swt. menguji kesalehan sosial seseorang dengan memintanya untuk mengeluarkan sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan.
Nilai lain yang terkait dengan dua kesalehan ini, adalah sebab utama yang paling banyak menjerumuskan seseorang ke dalam neraka karena tidak mampu membentengi diri dengan dua kesalehan tersebut, seperti pernyataan jujur penghuni neraka yang diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya,
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab, ’Kami dahulu tidak termasuk  orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak pula memberi makan orang miskin dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya” (QS Al-Mudatsir: 42-45).
Resep agar tidak bersifat keluh kesah lagi kikir juga sangat terkait dengan kemampuan seseorang membangun dalam dirinya dua kesalehan tersebut secara simultan. Allah Swt. memberi jaminan,
“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak memiliki apa-apa (yang tidak mau meminta)” (QS Al-Ma’arij: 22-25).
Berapa banyak dari umat ini yang hanya mementingkan saleh secara sosial tapi lupa akan hubungan baik dengan Allah Swt. Sebaliknya, banyak juga yang saleh secara personal namun ketika berhadapan dengan sosial, ia larut dan tidak mampu membangun kesalehan di tengah-tengah  mereka. Sungguh umat ini sangat membutuhkan kehadiran komunitas yang saleh secara personal, dalam arti mampu menjaga hubungan baik dengan Allah SWT. Saleh secara sosial dalam arti mampu memelihara hubungan baik dan memberi kebaikan dan manfaat yang besar bagi kemanusiaan. (Wallahu a’lam bishsawab).

Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern

6 Feb 2013 2 comments



Pendahuluan
Latar Belakang
Kehadiran pasar modern, terutama supermarket dan hipermarket, dianggap oleh berbagai kalangan telah menyudutkan keberadaan pasar tradisional di perkotaan. Di Indonesia, terdapat 13.450 pasar tradisional dengan sekitar 12,6 juta pedagang kecil(Kompas, 2006).
Pesatnya pembangunan pasar modern dirasakan oleh banyak pihak berdampak terhadap keberadaan pasar tradisional. Di satu sisi, pasar modern dikelola secara profesional dengan fasilitas yang serba lengkap; di sisi lain, pasar tradisional masih berkutat dengan permasalahan klasik seputar pengelolaan yang kurang profesional dan ketidaknyamanan berbelanja. Pasar modern dan tradisional bersaing dalam pasar yang sama, yaitu pasar ritel. Hampir semua produk yang dijual di pasar tradisional seluruhnya dapat ditemui di pasar modern, khususnya hipermarket. Semenjak kehadiran hipermarket di Jakarta, pasar tradisional di kota tersebut disinyalir merasakan penurunan pendapatan dan keuntungan yang drastis (Kompas, 2006).

Permasalahan
Secara makro, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran pasar modern telah mengancam eksistensi pasar tradisional. Fakta ini antara lain diungkap dalam penelitian AC Nielson yang menyatakan bahwa pasar modern telah tumbuh sebesar 31,4%. Bersamaan dengan itu, pasar tradisional telah tumbuh secara negatif sebesar 8%. Berdasarkan kenyataan ini maka pasar tradisional akan habis dalam kurun waktu sekitar 12 tahun yang akan datang, sehingga perlu adanya langkah preventif untuk menjaga kelangsungan pasar tradisional termasuk kelangsungan usaha perdagangan (ritel) yang dikelola oleh koperasi dan UKM (Pasar Tradisional di Era Peersaingan Global, Lembaga Penelitian Smeru, Nomor 22 Tahun 2007).
Hasil Penelitian Dampak Keberadaan Pasar Modern (Supermarket Dan Hypermarket) Terhadap Usaha Ritel Koperasi/Waserda Dan Pasar Tradisional yang dilakukan oleh Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK, Kementerian Koperasi dan UKM bekerjasama dengan PT Solusi Dinamika Manajemen, tahun 2005 menyimpulkan bahwa adanya pasar modern telah menurunkan omzet penjualan pasar tradisional.

Tujuan
1.        Mengkaji ketentuan perundang-undangan yang mengatur tentang bisnis ritel di Indonesia.
2.        Mengusulkan kepada DPR RI dan Pemerintah untuk menyusun dan mengesahkan undang-undang yang mengatur tentang pengembangan bisnis ritel dan atau pasar modern yang tidak mengganggu, mengerdilkan, dan mematikan bisnis usaha mikro sebagaimana ditentukan dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

Pembahasan
Hingga saat ini, Indonesia belum memiliki undang-undang yang mengatur tentang pengembangan bisnis ritel atau pasar modern. Tujuan pembentukan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Pasal 3 huruf b, yaitu mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil; secara tidak langsung memberi peluang yang seluas-luasnya kepada para pengusaha bisnis ritel dan pasar modern untuk mengembangkan usahanya hingga ke pelosok tempat, sehingga mengerdilkan, mengancam, dan mematikan keberadaan warung-warung dan toko-toko tradisional milik masyarakat setempat yang merupakan salah satu bentuk usaha mikro.
Kondisi ini diperkuat dengan adanya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2007 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern yang membolehkan minimarket berlokasi di setiap sistem jaringan jalan sebagaimana tercantum dalam Pasal 5 ayat (4);  “Minimarket boleh berlokasi pada setiap sistem jaringan jalan, termasuk sistem jaringan jalan lingkungan pada kawasan pelayanan lingkungan (perumahan) di dalam kota/perkotaan.”
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2007 Tentang Waralaba tidak mengatur tentang lokasi pendirian bisnis ritel yang berbentuk waralaba. PPini hanya mengatur tentang kriteria, perjanjian, keawajiban pemberi , pendaftaran, pembinaan dan pengawasan waralaba, serta sanksi bagi pelanggar.
Begitu juga dengan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor: 31/M-dag/Per/8/2008 Tentang Penyelenggaraan Waralaba yang merupakan peraturan dari PP RI Nomor 42 Tahun 2007 juga tidak mengatur tentang lokasi pendirian bisnis ritel yang berbentuk waralaba.

Kesimpulan dan Saran
1.    Perkembangan bisnis ritel yang sangat pesat telah mengancam, mengerdilkan, dan mematikan keberadaan warung-warung dan toko-toko tradisional yang merupakan usaha mikro milik masyarakat.
2.    DPR RI dan Pemerintah segera membentuk dan mengesahkan undang-undang yang mengatur tentang bisnis ritel dan pasar modern, sehingga tidak mengancam, mengerdilkan, dan mematikan warung-warung dan toko-toko tradisional milik masyarakat kecil.

Alam Menguliti Kesombongan Manusia

5 Feb 2013 2 comments

Prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Merauke yang memberikan sinyal jika akan turun hujan pada Bulan Desember tahun 2012, ternyata meleset. Sampai dengan sekarang, hujan pun belum turun dan masyarakat belum juga memanfaatkan lahan yang telah digarap untuk ditanami padi (Tabloidjubi.com, 4 Januari 2013).
Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru menyatakan bahwa di Riau tidak ada gempa. Pasalnya, dari tiga penyebab terjadinya gempa, tektonik (pergerakan lempeng bumi), vulkanik (aktifitas gunung api), dan runtuhan (goa atau dalam bumi), di Riau tidak termasuk.
Namun pada Sabtu (31/3/2012) lalu Riau diguncang gempa berkekuatan 5,1 scala richter (SR) terjadi sekitar pukul 10:58:20 WIB, dengan lokasi 1.12 LU - 101.63 BT, sekitar 42 kilo meter (KM) dari timur laut Siak-Riau. Menurut BMKG, gempa yang terjadi pada kedalaman 10 Km, lebih disebabkan adanya pertemuan aktifitas lempeng di kerak bumi dan menghasilkan energi yang menimbulkan gempa. Hal ini dijelaskan Kepala Kantor BMKG Pekanbaru, Philip Mustamu melalui staf analisa, Warih Budi Selasa (3/4) di kantornya. Dia juga menyebutkan gempa yang terjadi di Siak termasuk dangkal, harusnya goncangannya kuat, tapi pada kenyataannya guncangan yang ditimbulkan gempa hanya dirasakan bila di atas gedung dan juga rumah tingkat (Riau Pos.co, 4 April 2012).
BMKG juga pernah terpeleset tatkala menetapkan Gunung Sinabung (2.460 m dpl) di Kabupaten Tanah Karo Sumatera Utara dengan status B yang berarti dalam kondisi aman. Namun, pada Ahad (29/8/2012) pukul 00.15 WIB dinihari gunung tersebut meletus dan mengeluarkan lava dan kabut disertai abu. Hal tersebut tentu membuat warga panik.
Bukti prediksi atau ramalan yang meleset bertambah setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi tentang adanya banjir besar yang menyebabkan Jakarta tenggelam pada 27 Januari 2013. Alasannya, banjir besar yang diprediksi akibat luapan rob tersebut tidak terjadi, karena pasang maksimum air laut bukan pada tanggal 27 Januari 2013 (Republika Online, 25 Januari 2013).

Cuaca Ekstrim Dunia
Juli 2012, cuaca panas yang ekstrem mendera Amerika Serikat.  Jutaan warga di sebagian wilayah Amerika Serikat tak mampu menahan gelombang panas yang suhunya mencapai di atas 100 derajat Fahrenheit atau 37,7 derajat Celcius di sejumlah kota di 20 negara bagian AS. Kota-kota yang 'terpanggang' termasuk Washington, St. Louis, dan Indianapolis. Puncaknya, Sabtu 7 Juli 2012, suhu di sebagian titik bahkan dilaporkan mencapai 106 derajat Fahrenheit atau 41 derajat Celcius, termasuk Washington. Warga ramai-ramai mencelupkan tubuhnya di kolam dan danau, menonton film atau naik kereta bawah tanah tanpa tujuan, demi menikmati  pendingin udara.
Pada 25 Januari 2013, negeri Paman Sam kembali diterjang cuaca ekstrem. Kali ini bukan gelombang panas, tapi suhu dingin esktrem disertai badai salju. Padahal warga Northeast, Amerika Serikat (AS) yang paling parah terkena dampak, masih dalam proses pemulihan akibat terjangan badai Sandy sehari sebelumnya. Cuaca dingin ekstrem yang sebelumnya melanda wilayah Midwest juga melumpuhkan jalur kereta, serta membuat pipa air membeku.
Di Australia, beberapa wilayahnya mengalami peningkatan suhu ekstrem yang terjadi sejak Jumat (4/1/2013) lalu. Akibat peningkatan suhu yang sangat ekstrem ini, banyak lahan pertanian dan hutan-hutan di Australia habis terbakar. Tercatat ada 130 titik kebakaran tersebar di beberapa wilayah Australia, seperti Tasmania selatan, New South Wales, Victoria barat, Canberra, dan masih banyak lagi. Kebakaran besar ini sulit untuk diatasi karena suhu panas itu disertai dengan angin kencang yang berhembus dengan kecepatan 120 km/jam. Selain itu, menurut laporan Badan Meteorologi Australia, suhu panas di sebagian besar wilayah Australia akan mencapai 43 derajat Celcius.
Peristiwa cuaca ekstrem juga terjadi di Brasil. Wilayah timur laut Brasil mengalami kekeringan terburuk dalam 30 tahun menyebabkan kerugian bagi ribuan petani lokal. Wilayah timur laut Brasil dikenal dengan “kekeringan Poligon” meliputi Piaui, Ceara, Rio Grande do Norte, Paraiba, Pernambuco, Alagoas, Sergipe, dan Bahia. Selama lebih dari puluhan tahun, siklus kekeringan melanda wilayah timur laut Brasil telah menyebabkan migrasi besar-besaran di cekungan Amazon dan pusat-pusat perkotaan tenggara Brasil.

Penjelasan Ilmiah
Ilmuwan Internasional mengeluarkan laporan bahwa peristiwa kekeringan parah, banjir, dan gelombang panas yang mengguncang dunia dalam dua tahun belakangan ini, disebabkan oleh peningkatan gas rumah kaca, sehingga mendorong peristiwa aneh cuaca ekstrem. Laporan tersebut ditulis dalam “State of The Climate” yang dikompilasi oleh 400 ilmuwan dari 48 negara dan dipublikasikan di dalam Buletin Masyarakat Meteorologi Amerika.
Dalam laporan tersebut dijelaskan bagaimana perubahan cuaca dapat menyebabkan kekeringan di Amerika Serikat (AS) dan benua Afrika, serta cuaca dingin ekstrem bersamaan gelombang panas di Inggris. Disebutkan juga tahun 2011 lalu adalah termasuk salah satu dari 15 tahun yang paling panas sejak tahun 1800-an. Kutub Utara menghangat sekitar dua kali tingkat garis lintang lebih rendah dengan es laut di bawah rata-rata.
Gas rumah kaca dari sumber polusi manusia seperti batu bara dan gas mencapai tingkat baru, dengan emisi karbon dioksida melebihi 390 bagian per juta, naik 2,10 bagian per juta dari 2010. La Nina telah membawa arus dingin di perairan Laut Pasifik timur, tetapi tahun 2011 juga termasuk dalam 12 tahun terpanas pada suhu air laut global.
Laporan itu juga menuliskan, para ilmuwan mengakui masih sulit untuk menghubungkan satu peristiwa dengan perubahan iklim yang disebabkan manusia. Akan tetapi masyarakat umum sudah mulai menerima cara berpikir ilmuwan bahwa cuaca atau peristiwa iklim adalah sama-sama penyebabnya. (www.suarapembaruan.com).

Penjelasan Al-Qur`an
Bencana, apa pun bentuknya, memang dapat dijelaskan secara ilmiah. Gelombang panas yang menerjang di sebagian belahan bumi sering dikaitkan dengan meningkatnya emisi gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global. Secara teori, permukaan air laut akan tinggi pada saat bulan purnama dan dapat menyebabkan banjir (rob). Gempa bumi yang berpusat di laut, umumnya akan menimbulkan tsunami.
Namun, belakangan para ahli iklim dan cuaca sering menyebut kata anomali untuk menjelaskan fenomena iklim dan cuaca yang tidak lazim. Perubahan iklim dan cuaca dianggap anomali, karena selama ini manusia hidup di dalam alam yang seimbang. Sementara, perubahan iklim dan cuaca, termasuk pergerakan kulit dan isi bumi, sesungguhnya merupakan reaksi dari alam untuk mencapai keseimbangan yang baru. Ketika hutan ditebangi hingga gundul, maka tanah di area hutan tidak lagi diikat oleh akar pohon dan air hujan tak mampu diserap. Akibatnya, tanah hutan menjadi labil, maka terjadilah longsor dan banjir. Jadi, banjir dan longsor itu merupakan reaksi alam untuk mencapai keseimbangan baru.
Penjelasan ilmiah dalam rangka mencari solusi terhadap akibat dari perubahan iklim dan cuaca, tidak akan menyelesaikan persoalan, selama solusi yang ditawarkan adalah solusi terhadap akibat, bukan terhadap penyebab utama. Kalau pun ditawarkan solusi terhadap sebab, sesunguhnya sebab tersebut merupakan akibat yang ditimbulkan oleh penyebab utama. Sementara penyebab utama dari akibat-akibat -- yang di kemudian hari menjadi sebab -- jarang atau bahkan tidak pernah dibahas dalam upaya mencari solusi.
Al-Qur`an menjelaskan bahwa penyebab utama kerusakan di bumi adalah sikap dan gaya hidup manusia itu sendiri. Manusia kurang memperhatikan hubungannya dengan alam. Kalau pun ada teori atau konsep tentang hubungan manusia dengan alam, akan tetapi teori atau konsep tersebut tidak di bingkai oleh konsep pengabdian kepada Sang Pencipta dan Pemelihara alam, yaitu Allah Swt.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS Ar-Ruum: 41).
Bencana alam yang ditimbulkan oleh kerusakan alam adalah sebuah konsekuensi (sunnatullah) dari penyimpangan yang dilakukan oleh manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam. Bencana alam merupakan peringatan dari Allah Swt. agar manusia kembali ke jalan yang benar.
Namun, ketika berbagai bentuk peringatan dari Allah Swt. tidak mampu mengembalikan manusia ke jalan yang benar, dikhawatirkan akan terjadi bencana yang lebih besar lagi sebagaimana yang pernah diturunkan oleh Allah Swt. kepada manusia terdahulu. Al-Qur`an merekam 12 kaum yang pernah ditimpa musibah besar. Mereka adalah:
1.           Kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun orang yang beriman hanyalah sekitar 80 orang. Kaumnya mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh. Lalu, Allah mendatangkan banjir yang besar, kemudian menenggelamkan mereka yang ingkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh (QS Al-Ankabut: 14).
2.         Kaum Nabi Hud Alaihis Salam. Nabi Hud diutus untuk kaum 'Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Lalu, Allah mendatangkan angin yang dahsyat disertai dengan guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (QS At-Taubah: 70, Al-Qamar: 18, Fushshilat: 13, An-Najm: 50, Qaaf: 13).
3.         Kaum Nabi Saleh Alaihis Salam. Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Nabi Saleh diberi sebuah mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Namun, mereka membunuh unta betina tersebut sehingga Allah menimpakan azab kepada mereka (QS Al-Hijr: 80, Huud: 68, Qaaf: 12).
4.         Kaum Nabi Luth Alaihis Salam. Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati sudah diberi peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan, kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS Alsyu'araa: 160, Annaml: 54, Al-Hijr: 67, Al-Furqan: 38, Qaf: 12).
5.         Kaum Nabi Syuaib Alaihis Salam. Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan. Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas. Akhirnya, mereka binasa (QS Attaubah: 70, Alhijr: 78, Thaaha: 40, dan Alhajj: 44).
Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah. Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat (Aikah) (QS AlHijr: 78, Alsyu'araa: 176, Shaad: 13, Qaaf: 14).
6.         Fir’aun dan pengikutnya. Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa Alaihis Salam dan Harun Alaihis Salam untuk memperingatkan Fir’aun akan azab Allah. Namun, Fir’aun malah mengaku sebagai tuhan. Ia akhirnya tewas di Laut Merah dan jasadnya berhasil diselamatkan. Hingga kini masih bisa disaksikan di museum mumi di Mesir (Al-Baqarah: 50 dan Yunus: 92).
7.         Ashab Al-Sabt. Mereka adalah segolongan fasik yang tinggal di Kota Eliah, Elat (Palestina). Mereka melanggar perintah Allah untuk beribadah pada hari Sabtu. Allah menguji mereka dengan memberikan ikan yang banyak pada hari Sabtu dan tidak ada ikan pada hari lainnya. Mereka meminta rasul Allah untuk mengalihkan ibadah pada hari lain, selain Sabtu. Mereka akhirnya dibinasakan dengan dilaknat Allah menjadi kera yang hina (QS Al-A'raaf: 163).
8.         Ashab Al-Rass. Rass adalah nama sebuah telaga yang kering airnya. Nama Al-Rass ditujukan pada suatu kaum. Konon, nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi Saleh Alaihis Salam. Namun, ada pula yang menyebutkan Nabi Syuaib Alaihis Salam.
Sementara itu, yang lainnya menyebutkan, utusan itu bernama Handzalah bin Shinwan (adapula yang menyebut bin Shafwan). Mereka menyembah patung. Ada pula yang menyebutkan, pelanggaran yang mereka lakukan karena mencampakkan utusan yang dikirim kepada mereka ke dalam sumur sehingga mereka dibinasakan Allah (QS Al-Furqan: 38 dan Qaf ayat 12).
9.         Ashab Al-Ukhdud. Ashab Al-Ukhdud adalah sebuah kaum yang menggali parit dan menolak beriman kepada Allah, termasuk rajanya. Sementara itu, sekelompok orang yang beriman diceburkan ke dalam parit yang telah dibakar, termasuk seorang wanita yanga tengah menggendong seorang bayi. Mereka dikutuk oleh Allah SWT (QS Al-Buruuj: 4-9).
10.      Ashab Al-Qaryah. Menurut sebagian ahli tafsir, Ashab Al-Qaryah (suatu negeri) adalah penduduk Anthakiyah. Mereka mendustakan rasul-rasul yang diutus kepada mereka. Allah membinasakan mereka dengan sebuah suara yang sangat keras (QS Yaasiin: 13).
11.         Ashabu At-Tubba’. Tubba' adalah nama seorang raja bangsa Himyar yang beriman. Namun, kaumnya sangat ingkar kepada Allah hingga melampaui batas. Maka, Allah menimpakan azab kepada mereka hingga binasa. Peradaban mereka sangat maju. Salah satunya adalah bendungan air (QS Ad-Dukhan: 37).
12.       Kaum Saba. Mereka diberi berbagai kenikmatan berupa kebun-kebun yang ditumbuhi pepohonan untuk kemakmuran rakyat Saba. Karena mereka enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan bendungan Ma'rib dengan banjir besar (Al-Arim) (QS Saba: 15-19).

 
Syamsu Hilal © 2011 | Dikunceni Kang Zack, Kunjungi Juga Suswono, Kementan dan Atang Trisnanto