• Turun Ke Lapangan

    Bersama Menteri Pertanian Suswono, mengunjungi petani bawang di Cirebon.

  • Turun Ke Lapangan

    Bersama Menteri Pertanian Suswono, mengunjungi petani bawang di Cirebon.

  • Banjir Banten

    Berdiskusi dengan Menteri Pertanian Suswono dan Asda II Husni Hasan di areal persawahan di Desa Undar Andir Kecamatan Kragilan Kabupaten Serang , 22 Januari 2013.

  • Menjadi Narasumber Workshop

    Narasumber dalam Workshop Evaluasi Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP), di IPB International Convention Center tanggal 8 Agustus 2012 .

  • Bersama Petani Menes

    Dengan Kelompok Tani Penerima UPPO di Menes, Kabupaten Pandeglang Oktober 2011.

  • Kunjungan Daerah

    Silaturrahim Bersama Anggota DPRD Provinsi NTB, September 2011.

  • Bersama Peternak Sapi

    Mengunjungi Peternakan Sapi Potong dan Sapi Perah di Lembang, Jawa Barat.

  • Bersama Peternak Kerbau Pandeglang

    Syamsu Hilal bersama Anggota DPRD, pejabat Dinas Peternakan Kabupaten Pandeglang, penyuluh lapangan serta peternak Desa Telagasari Kecamatan Saketi penerima program UPPO Kementerian Pertanian.

  • Pembahas Evaluasi Kinerja

    Menjadi pembahas dalam acara Evaluasi Kinerja Penyuluhan Pertanian di Hotel Horison Bekasi, 27 September 2012.

  • Berkunjung ke Baduy

    Leuit Baduy memiliki kesamaan dengan LDPM Badan Ketahanan Pangan Kementan.

  • Sidang Tahunan APEC

    Salah satu delegasi untuk memperkenalkan produk pertanian Indonesia.

  • Bertandang ke Jepang

    Ditengah areal persawahan salah satu sentra padi di Jepang.

  • Bersama Peternak Sudan

    Memenuhi undangan dari Pemerintah Sudan terkait kerja sama dan alih teknologi pertanian.

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kisah Thalut dan Sikap Kaum Muslimin dalam Menghadapi Dunia

26 Mei 2013 0 comments

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. dan barangsiapa tidak meminumnya, maka dia termasuk pengikutku, kecuali yang menceduknya seceduk tangannya." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama Dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan Kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar" (QS Al-Baqarah: 249).
Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur`an, Sayyid Quthb menjelaskan, di sinilah tampak kebenaran hikmah Allah Swt. memilih Thalut. Thalut menghadapi peperangan bersama tentara dari umat yang dahulu pernah dikalahkan musuh, yang sudah mengenal kekalahan dan kehinaan di dalam sejarahnya dari waktu ke waktu. Thalut akan berhadapan dengan kekuatan jiwa tentaranya dalam melawan kekuatan musuh yang besar dan pernah menjadi pemenang pada masa lalu. Kekuatan jiwa itu tak lain adalah iradah (kemauan, tekad, kehendak), yaitu iradah yang dapat mengendalikan syahwat dan keinginan, yang tegar menghadapi kesulitan dan penderitaan, yang mampu mengungguli semua kebutuhan dan keperluan, yang lebih mengutamakan ketaatan dan mengemban tugas-tugas dan tanggung jawabnya, sehingga mampu melewati ujian demi ujian. Pemimpin yang telah dipilih untuk mereka itu harus menguji iradah tentaranya, ketabahan, dan kesabarannya. Pertama-tama ketabahan menghadapi godaan keinginan dan syahwat. Kedua, kesabaran menghadapi kesulilatan dan beban berat. Sang pemimpin (Thalut) memilih ujian ini, sedangkan mereka sebagaimana dikatakan dalam beberapa riwayat dalam kondisi kehausan. Ujian itu dengan maksud untuk mengetahui siapa orang yang sabar bersamanya dan siapa orang yang akan surut ke belakang dan lebih mengutamakan keselamatan dirinya. Benarlah firasatnya,
“Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka.”
Thalut membolehkan mereka minum, tetapi hanya seceduk tangan saja sekedar untuk membasahi tenggorokan. Akan tetapi hal itu jangan sampai membuat mereka tidak ikut berperang. Namun, ternyata sebagian besar dari mereka harus berpisah dari Thalut, karena mereka mengikuti keinginan hawa nafsunya. Mereka berpisah darinya karena mereka tidak layak mengemban tugas penting yang dibebankan ke pundak Thalut dan pundak mereka. Ini merupakan langkah baik dan sebuah keharusan bahwa mereka terpisah dari tentara yang akan berperang. Sedangkan tentara yang diperlukan itu bukan sekedar jumlahnya yang besar, tetapi mereka yang memiliki hati kokoh, kemauan yang mantap, iman yang teguh, dan konsisten di atas jalan yang lurus.
Ujian ini juga menunjukkan bahwa niat yang tersembunyi itu saja belum cukup. Karena itu harus dilakukan ujian yang bersifat praktik dalam bentuk tindakan nyata dan menghadapi peristiwa-peristiwa di jalan sebelum menuju peperangan yang sesungguhnya. Pengalaman itu juga menunjukkan ketegaran hati sang pemimpin terpilih yang tidak terguncang hatinya, meskipun sebagian besar tentaranya surut ke belakang pada ujian pertama. Bahkan ia terus melanjutkan perjalanan.
Ujian itu telah menyaring pasukan Thalut, dalam batas tertentu, namun ujian tersebut belum selesai,
“Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama Dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya."
Jumlah mereka tinggal sedikit, dan mereka mengetahui kekuatan dan banyaknya tentara musuh di bawah pimpinan Jalut. Mereka adalah orang-orang mukmin yang tidak mungkin mengingkari janjinya kepada Nabi mereka. Akan tetapi ketika menghadapi kenyataan yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri, mereka merasa lemah untuk menghadapinya.
Ini adalah ujian yang menentukan, yang mengharuskannya mengandalkan kekuatan lain yang lebih besar daripada kekuatan yang tampak dalam pandangan mata. Hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh orang-orang yang telah sempurna imannya, kemudian hatinya menjalin hubungan dengan Allah. Maka, mereka mendapatkan ukuran baru yang muncul dari realitas imannya, bukan ukuran sebagaimana yang digunakan manusia yang hanya mengukur dengan keadaan lahiriah saja.
Di sini tampillah golongan yang orang beriman, golongan yang jumlahnya sedikit dan merupakan manusia pilihan yang memiliki timbangan Rabbaniyah,
“Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar."
Demikianlah, berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak. Maka, inilah kaidah dalam pandangan orang-orang yang yakin akan bertemu dengan Allah. Kaidah bahwa golongan yang beriman itu sedikit jumlahnya, karena mereka akan mendaki tangga yang sulit hingga mencapai tingkatan terpilih. Akan tetapi mereka menang karena selalu berhubungan dengan sumber semua kekuatan dan karena mereka mengejawantahkan kekuatan pemenang, yaitu kekutan Allah yang Mahamenang atas urusan-Nya dan yang Mahakuasa atas hamba-Nya, yang menghancurkan para diktator, menghinakan orang-orang yang zalim, dan menekan orang-orang yang sombong.
Mereka menyandarkan kemenangan hanya kepada Allah, dengan izin Allah. Mereka lalu mengemukakan alasannya yang hakiki, yaitu “Allah beserta orang-orang yang sabar”. Maka dengan semua itu, mereka hendak menunjukkan bahwa mereka dipilih oleh Allah Swt. untuk melakukan peperangan yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilah.
Inilah golongan kecil yang percaya penuh akan bertemu dengan Allah yang mengembangkan kesabaran dari keyakinannya terhadap pertemuan ini, yang menyandarkan kekuatan dari kepercayaannya terhadap Allah, bahwa Allah senantiasa beserta orang-orang sabar. Inilah golongan kecil yang memiliki kepercayaan utuh, sabar, dan mantap. Serta yang tidak dapat diguncangkan oleh banyaknya jumlah musuh beserta kekuatannya. Mereka inilah golongan yang menentukan akhir peperangan, setelah terus menerus memeperbaharui dan mengaktualkan janjinya kepada Allah, menghadapkan hatinya kepada-Nya, dan memohon pertolongan kepada-Nya ketika mereka sedang menghadapi kakuatan besar yang menakutkan,
“Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa, "Ya Tuhan Kami, tuangkanlah kesabaran atas diri Kami, dan kokohkanlah pendirian Kami dan tolonglah Kami terhadap orang-orang kafir. Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam” (QS Al-Baqarah: 250-251).
Demikianlah, mereka mengucapkan “Ya Tuhan Kami, tuangkanlah kesabaran atas diri Kami.” Ini adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan pemandangan di mana kesabaran dituangkan oleh Allah kepada mereka, hingga memenuhi hati mereka, serta dicurahkan ketenangan, ketenteraman, dan ketabahan dalam menghadapi bahaya dan kesulitan. “Kokohkanlah kaki (pendirian) kami,” karena pendirian ini berada di tangan Allah yang Mahasuci, supaya Allah mengokohkannya hingga tidak goyah. “Dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. Maka jelaslah posisinya, yaitu iman berhadapan dengan kekafiran, kebenaran berhadapan dengan kebatilah. Dan mereka berdoa kepada Allah supaya Allah menolong kekasih-kekasih-Nya yang beriman itu untuk menghadapi musuh-musuhnya yang kafir.
Sementara itu, dalam Tafsir Al-Mishbah, Quraisy Syihab menjelaskan bahwa sebagian ulama memahami ujian ini dalam arti ujian menghadapi dunia dan gemerlapnya. Mereka meminum air sungai itu untuk mendapatkan kepuasan penuh, mereka adalah yang ingin meraih semua gemerlap dunia. Adapun yang tidak meminumnya, dalam arti tidak terpengaruh oleh gemerlap dunia dalam berjuang, itulah kelompok Thalut. Demikian juga mereka yang hanya mencicipi sedikit dari air sungai itu. Dengan demikian, ayat ini membagi mereka ke dalam tiga kelompok, yakni yang minum sampai puas, yang tidak minum, dan yang sekedar mencicipinya.
Hal yang sama dijelaskan di dalam Tafsir Al-Qurthubi bahwa ayat ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah Swt. untuk dunia. Allah Swt. mengumpamakan dunia dengan sungai. Ada yang meminum air sungai tersebut dan tidak mau beranjak dari sungai tersebut bahkan memperbanyak minum air sungai tersebut. Ada yang sama sekali tidak meminum air sungai bahkan zuhud dengan air sungai tersebut. Dan ada yang menceduk seceduk dengan tangannya sekedar kebutuhan. Tiga keadaan tersebut berbeda-beda penilianannya di sisi Allah Swt.
Ayat di atas, sebagaimana terjemahannya berbunyi, “barangsiapa tidak meminumnya, maka dia termasuk pengikutku, kecuali yang menceduknya seceduk tangannya.” Redaksinya yang demikian itu, yakni pengecualiannya ditempatkan di akhir, bukan berbunyi sebagaimana gaya bahasa yang umum digunakan, “Barangsiapa tidak meminumnya, kecuali yang menceduknya seceduk tangannya, maka dia adalah pengikutku.” Ayat ini tidak berbunyi demikian karena yang ingin ditekankan adalah tidak minum, dan bahwa inilah yang seharusnya terjadi.
Setelah menjelaskan dasar tersebut, barulah pengecualian itu disampaikan. Setelah mereka melampaui sungai dan melihat kekuatan senjata dan personil musuh di bawah pimpinan Jalut, sebagaimana mereka berkata, “Tak ada kesanggupan kami hari ini menghadapi Jalut dan tentaranya.” Tidak dijelaskan oleh ayat ini, apakah ucapan tersebut disampaikan kepada Thalut, atau ucapan mereka satu sama lain, ataukah bisikan hati mereka yang diketahui Allah Swt.
Adapun orang-orang yang yakin bahwa mereka akan menemui Allah dan ganjaran-Nya di hari Kemudian, dengan penuh semangat dan optimisme, mereka berkata, “Berapa banyak terjadi, golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.” Ini karena optimisme mereka disertai oleh keyakinan bahwa kemenangan bukan ditentukan oleh kuantitas tetapi kualitas, dan bahkan kemenangan bersumber dari Allah Swt. dan atas izin-Nya. Keyakinan itu juga lahir dari kesadaran mereka tentang perlunya ketabahan dan kesabaran karena Allah beserta orang-orang sabar. Bukti kebenaran ucapan orang-orang beriman itu ditemukan antara lain pada sahabat-sahabat Nabi Muhammad Saw. dalam Perang Badar. Ketika itu, kaum muslimin hanya berjumlah 313 orang dengan persenjataan dan perlengkapan yang amat kurang, namun demikian Allah Swt. menganugerahkan kemenangan kepada kaum muslimin (Quraisy Syihab, 2009).

Dunia yang Menipu
Kekalahan pasukan muslimin dalam Perang Uhud disebabkan karena pasukan pemanah yang ditempatkan di atas bukit tidak menaati perintah Rasul Saw. agar tidak meninggalkan posisinya sebelum diperintahkan untuk turun. Mereka tergiur dengan harta benda yang ditinggalkan pasukan kafir yang lari tunggang-langgang setelah diporak-porandakan oleh pasukan kaum muslimin. Kemenangan yang sudah di depan mata seketika berbalik menjadi pukulan telak ke jantung pasukan kaum muslimin. Ketika itu pasukan kafir yang dipimpin Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam), melihat celah karena sebagian besar pasukan pemanah kaum muslimin menuruni bukit Uhud untuk mengambil ghanimah. Pasukan kafir akhirnya berbalik menyerang pasukan kaum muslimin dari arah depan dan belakang. Dalam posisi terjepit, pasukan kaum muslimin banyak yang syahid. Para shahabat  kocar-kacir. Kaum musyrikin maju mendekati posisi Rasulullah Saw. Mereka berhasil melukai kepala beliau, memecahkan gigi seri beliau. Bahkan beberapa kali beliau terperosok ke dalam lubang yang digali oleh Abu ‘Amir Fasiq dan melempari beliau dengan batu-batuan.
Kekalahan pasukan kaum muslimin terjadi pada sebaik-baik generasi,dan di antara mereka terdapat sebaik-baik manusia setelah rasulullah dan Abu bakar.namun akhirnya mereka kalah juga.hal ini terjadi karena pemanah itu membangkang perintah qaid,sementara perhatian mereka tertuju pada ghanimah yang tercecer di medan perang hingga meneteslah air liur mereka,menolak untuk mengemban perintah dari yang ghaib,dan lari berbondong-bondong menuju dunia.Maka kekalahanlah yang memang sepantasnya menimpa mereka.
Kita saksikan kekalahan ini berulang kembali pada permulaan perang Hunain,tatkala kaum muslimin mulai condong kepada dunia dan kagum terhadap banyaknya tentara mereka,lupa akan pertolongan Allah dan bantuan-Nya.bahkan mereka melampaui batas dikarekan jumlah dan perlengkapan.barulah ketika mereka kembali kepada prinsip zuhud dari segala gemerlapnya dunia dan memenuhi panggilan nabi,Allah memberikan kemenangan setelah menderita kehancuran.
Kita masih mendengar ungkapan jendral tentara muslim kepada Panglima parsi,"kami datang kepadamu dengan tentara yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan."sadarlah panglima parsi bahwa tipe kaum seperti inilah yang tidak akan terkalahkan.
Kita bandingkan dengan peperangan di zaman sekarang melawan yahudi,semuanya berakhir dengan kekalahan.Kita tidak ragu bahwa penyebab utamanya adalah hubbundunya dalam pangkat,prestasi dan prestise,koleksi harta,membangun gedung-gedung dan mencintai syahwat yang haram.
Kita jumpai di antara kekalahan-kekalahan itu, pengkhianatan demi pengkhianatan.Kita mendengar ancaman-ancaman kosong menjelang perang tanpa bukti. Kita saksikan panglima-panglima perang kita hanyut dalam kehinaan pada saat-saat perang. Salah seorang mereka menjual negerinya kepada musuh demi sedikit harta, sementara yang lain mundur dari jengkal tanahnya karena khawatir keselamatan singgasananya. Yang lain lagi sengaja menciptakan kejahatan lain.
Apakah ia mengira bahwa segalanya akan berakhir sampai disitu?
Kekalahan demi kekalahan akan terus menimpa kita sebelum kita mencintai kematian, sebagaimana musuh mencintai kehidupan,mengesampingkan dunia dan memelihara surga dalam diri.Dari itu tercapailah kemenangan (http://www.pk-sejahtera.us/index.php/14-ind-columns/tarbiyah/26-cinta-dunia-mengakibatkan-kekalahan).
Beberapa penggalan ayat dan hadits di bawah ini semoga dapat mengingatkan kita semua untuk zuhud terhadap dunia dalam bingkai makna yang telah diterapkan oleh Rasulullah Saw., para sahabatnya, dan para pengikut beliau yang mendapat bimbingan dari AllahSwt.
”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (QS At-Takaatsur 1-8).
Dari Amru bin Auf al-Anshari Ra. bahwa Rasulullah Saw. mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarrah ke al-Bahrain untuk mengambil jizyahnya. Kemudian Abu Ubaidah datang dari Bahrain dengan membawa harta dan orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah. Mereka berkumpul untuk shalat Subuh dengan Nabi Saw. tatkala selesai dan hendak pergi mereka mendatangi Rasul Saw., dan beliau tersenyum ketika melihat mereka kemudian bersabda:”Saya yakin kalian mendengar bahwa Abu Ubaidah datang dari Bahrain dengan membawa sesuatu?” Mereka menjawab:”Betul wahai Rasulullah”. Rasul Saw. bersabda:” Berikanlah kabar gembira dan harapan apa yang menyenangkan kalian, demi Allah bukanlah kefakiran yang paling aku takutkan padamu tetapi aku takut dibukanya dunia untukmu sebagaimana telah dibuka bagi orang-orang sebelummu dan kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan akan menghancurkanmu sebagaimana telah menghancurkan mereka” (HR Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Hurairah dari Nabi Saw. bersabda: ”Celakalah hamba dinar (emas), dirham (perak), pakaian dan pakaian sutra. Jika diberi ia suka dan jika tidak ia tidak suka” (HR Bukhari). Dalam riwayat Bukhari yang lain:” Jika diberi ia suka dan jika tidak ia murka, celakalah dan semoga celaka dan jika terkena duri tidak ada yang mengeluarkannya. Berbahagialah bagi seorang hamba Allah yang mengambil kendali kudanya di jalan Allah kepalanya acak-acakan dan kakinya berdebu, jika ia disuruh berjaga maka berjaga dan jika disuruh di depan maka ia di depan. Jika ia minta izin tidak diizinkan dan jika minta pesan tidak dikabulkan.”
Dari Abu Said Al-Khudri Ra. dari Nabi Saw. bersabda:”Sesungguhnya dunia itu manis dan lezat, dan sesungguhnya Allah menitipkannya padamu, kemudian melihat bagaimana kamu menggunakannya. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bani Israel disebabkan wanita” (HR Muslim).

Kisah Anak Manusia di Jalan Raya

8 Jan 2013 0 comments




Salah satu cara untuk meneropong mental dan karakter seseorang adalah dengan mengamati tingkah polah mereka ketika mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya. Setiap hari, kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya, dipadati kendaraan bermotor roda dua dan roda empat atau lebih. Mereka harus berbagi di lajur jalan yang terbatas, lantaran peningkatan jumlah kendaraan tidak sebanding dengan peningkatan panjang jalan yang dibangun pemerintah. Al hasil, di setiap sudut jalan ibukota, terutama pada pagi dan sore hari, terjadi kemacetan yang parah. Namun, warga Jakarta dan sekitarnya sudah terbiasa menghadapi kemacetan, karena setiap hari mereka berangkat dan pulang kerja hampir pasti melewati jalan yang sama.
Di samping jumlah kendaraan yang melebihi kapasitas ruas jalan, ketaatan dan ketertiban para pengguna jalan juga menjadi salah satu penyebab kemacetan lalu lintas. Para pengendara sepeda motor saling serobot di sela-sela kendaraan roda empat atau lebih. Bahkan ada pengendara motor yang nekat naik ke trotoar, sehingga mengganggu para pejalan kaki. Para supir taksi dan supir bus saling berkejaran, lantaran mereka dikejar setoran. Para pengendara mobil pribadi berusaha ingin segera tiba di tempat kerja masing-masing. Begitulah kesibukan sehari-hari lalu-lintas di Jakarta. Kalau kondisi tersebut tidak “dinikmati”, maka yang muncul adalah penyakit stres, tekanan darah tinggi, pemarah, dan sikap intoleransi. Oleh karena itu, seyogiyanya setiap pengguna jalan di kota-kota besar bisa memanfaatkan kemacetan untuk melatih kesabaran dan toleransi.
Mat Bulbit adalah salah seorang pengguna jalan yang setiap hari melintasi jalan-jalan raya di Jakarta dan sekitarnya. Baginya, fenomena kemacetan merupakan menu sehari-hari. Ke mana-mana, ia mengemudikan mobilnya sendiri. Tanpa supir pribadi. Padahal, kantor tempatnya bekerja beberapa kali menawarkan supir pribadi kepadanya sebagaimana teman-teman sejawat Mat Bulbit. Tapi ia menolak, dengan alasan Mat Bulbit tidak mau ribut dengan supir pribadi yang ujungnya bisa berakhir pada pemecatan sang supir, seperti yang pernah terjadi pada beberapa teman sejawatnya.
Ketidakcocokan antara supir pribadi dengan majikan seringkali terjadi. Salah satu faktornya adalah ketidakcocokan gaya (style) sang supir ketika mengemudikan mobil dengan keinginan majikan. Ada majikan yang enjoy saja menghadapi kemacetan di jalan raya, sehingga tidak suka dengan gaya supir yang ugal-ugalan. Sebaliknya ada majikan yang selalu ingin cepat sampai ke tempat tujuan, sehingga meminta supir pribadinya untuk melakukat zig-zag di jalan. Nah, kalau gaya sang supir tidak cocok dengan keinginan majikan, sangat mungkin sang majikan marah-marah kepada supirnya. Kalau sang supir tidak terima dengan makian sang majikan, maka yang terjadi adalah percekcokan yang pasti berujung pada pemecatan sang supir. Kondisi inilah yang tidak diharapkan Mat Bulbit. Makanya, ia lebih memilih mengendarai mobilnya sendiri.
Suatu hari di bulan Oktober 2012, Mat Bulbit mengendarai mobil ke Bandara Soekarno-Hatta untuk sebuah tugas ke luar kota. Kondisi lalu lintas pada waktu itu cukup lancar, sehingga ia dapat berkendaraan dengan santai. Kira-kira tiga kilometer menjelang masuk ke terminal bandara, tiba-tiba mobil yang berada di depan Mat Bulbit mengerem secara mendadak. Mat Bulbit tersentak dan langsung menginjak pedal rem sekuat tenaga. Namun naas, hidung mobil Mat Bulbit mencium bemper mobil yang berada di depannya. Tidak terlalu keras, hanya menyisakan bercak putih di bagian belakang mobil yang ditabraknya, yang berasal dari plat nomor mobil Mat Bulbit.
Si pengendara mobil turun dan langsung menghampiri Mat Bulbit. “Saya minta SIM!” ketus orang tersebut. “Untuk apa?” tanya Mat Bulbit. “Kita selesaikan di sini saja,” lanjut Mat Bulbit sambil mengajak orang tersebut menepikan kendaraannya agar tidak mengganggu pengguna jalan yang lain.
“Nggak! Saya minta SIM anda,” paksa orang itu. “Saya sedang terburu-buru mengantar tamu ke bandara,” lanjutnya.
“Saya juga mau ke bandara. Kalau begitu kita sama-sama ke bandara dan kita selesaikan di sana,” ajak Mat Bulbit santai.
“Saya minta SIM anda!” seru orang tersebut ngotot. “Oke, bagaimana kalau kita ke pinggir saja dulu sebentar. Saya akan bertanggung jawab,” urai Mat Bulbit meyakinkan orang itu.
“Tidak! Saya harus meminta SIM anda, supaya anda tidak kabur,” ucap orang itu ketus.
Sambil geleng-geleng kepala, Mat Bulbit akhirnya mengeluarkan dompet dan menyerahkan SIM-nya kepada orang tersebut. “Mari kita ke pinggir sekarang dan kita selesaikan masalah kita,” ajak Mat Bulbit. Setelah mengambil SIM Mat Bulbit, orang itu berkata, “Nanti kita ketemu di bandara saja,” katanya sambil masuk ke mobil dan tancap gas ke arah bandara.
Mat Bulbit menghela nafas panjang. SIM-nya dibawa kabur oleh pengemudi mobil yang ia tabrak. Sementara dia belum sempat mencatat nomor polisi mobil yang dikemudikan orang yang telah membawa kabur SIM-nya. Kepala Mat Bulbit dipenuhi tanda tanya besar. Untuk apa orang itu mengambil SIM-nya? Bukankah bagi orang itu tidak ada manfaatnya? Dan bila kejadiannya seperti itu, bukankah orang itu tidak mendapat ganti rugi dari Mat Bulbit? Padahal ia mau bertanggung jawab atas insiden yang baru saja terjadi.
Memang orang jujur dan orang jahat tidak memiliki tanda di kening atau di wajahnya, sehingga sulit bagi kita untuk memutuskan apakah seseorang yang baru dikenal itu jujur atau jahat. Seandainya orang baik dan orang jahat punya tanda yang dapat dilihat, maka dengan mudah kita dapat memilih para pemimpin dalam setiap pemilu dan pemilukada. Kondisinya akan semakin bertambah sulit manakala orang-orang yang diharapkan dapat menunjukkan rekam jejak calon-calon pemimpin yang akan dipilih, justru berlaku tidak jujur dan memutarbalikkan fakta dan data. Orang baik dicap buruk, sebaliknya orang buruk diberi label baik. Akhirnya, masyarakat menjadi bingung dan memilih bersikap fragmatis.
Bahkan dalam banyak kasus, orang-orang yang berniat jahat selalu menampilkan perilaku sopan dan berkata-kata manis di hadapan calon korbannya. Dalam kasus di atas, pengemudi yang mobilnya ditabrak Mat Bulbit tidak percaya kalau Mat Bulbit mau bertanggung jawab. Meski Mat Bulbit telah berkali-kali meyakinkan orang tersebut bahwa dirinya akan bertanggung jawab. Sebaliknya, Mat Bulbit memahami ketidakpercayaan orang tersebut terhadapnya, sehingga ia mau memberikan SIM-nya. Mat Bulbit berpikir, tidak mungkin orang itu membawa lari SIM-nya, karena bagi orang tersebut SIM Mat Bulbit tidak ada manfaatnya. Melihat kenyataan SIM-nya dibawa kabur, Mat Bulbit hanya berharap bahwa suatu waktu orang itu akan terbuka hatinya, lalu mengembalikan SIM itu kepadanya.
Beberapa hari kemudian, Mat Bulbit menceritakan kejadian tersebut kepada beberapa temannya di kantor. Dari merekalah Mat Bulbit menemukan jawabannya. Menurut mereka, modus dengan cara mengambil SIM dalam sebuah kecelakan lalu-lintas seperti yang dialami Mat Bulbit sudah menjadi kebiasaan di kalangan para supir di jalanan. Meski mereka tidak mendapat ganti rugi, toh mobil mereka sudah diasuransikan, sehingga tidak ada masalah dengan kerusakan. Apalagi mobil yang ditabrak Mat Bulbit cuma menyisakan cat putih yang berasal dari plat nomor mobilnya.
Lalu untuk apa orang itu mengambil SIM Mat Bulbit? Kata mereka, memang SIM itu tidak ada manfaatnya buat dia, tapi orang itu cukup puas lantaran sudah membuat susah Mat Bulbit. ‘Hmm....jadi di Republik ini, ada orang yang merasa puas kalau berhasil membuat orang lain susah,’ ucap Mat Bulbit dalam hati.
*****
Hari Sabtu, sehari setelah Hari Raya Idul Adha 1433 Hijriyah yang lalu, Mat Bulbit dan istrinya mengunjungi orangtuanya di Pandeglang, Banten, sambil mengecek pelaksanaan pemotongan hewan qurban yang dikirim dari Jakarta melalui orang kepercayaannya di Pandeglang. Sudah lima tahun belakangan, Mat Bulbit melakukan pemotongan hewan qurban di desa orangtuanya. Menurutnya, daging qurban akan lebih bermanfaat bila dibagikan kepada mereka yang hidup dalam kekurangan.
Usai bersilaturrahim, Mat Bulbit dan istrinya kembali ke Jakarta. Sejak memasuki jalan raya Pandeglang-Jakarta, sebuah mobil sedan Suzuki Aerio bernomor polisi B 1808 NVC berusaha mendahului mobil Mat Bulbit. Namun, karena ramainya kendaraan yang melintas, mobil yang dikendarai empat anak muda itu belum berhasil mendahului mobil Mat Bulbit. Menjelang Pasar Cadasari, semua kendaraan memperlambat lajunya, karena banyak orang yang lalu-lalang di sekitar pasar yang letaknya persis di pinggir jalan raya. Ada yang berjalan kaki, ada yang menggunakan sepeda, dan banyak pula yang menggunakan sepeda motor. Tepat di depan Mat Bulbit, seorang ibu pengendara sepeda motor hendak menyeberang. Mat Bulbit menghentikan mobilnya memberi kesempatan ibu itu untuk melintas. Tiba-tiba mobil Mat Bulbit ditabrak oleh mobil Suzuki Aerio yang sejak tadi ingin mendahuluinya. Tampaknya tabrakannya cukup keras. Hal itu dapat dilihat dari rusaknya bagian depan mobil si penabrak. Sedangkan bagian belakang mobil Mat Bulbit penyok ke bagian dalam.
Mat Bulbit hendak turun dari mobil untuk meminta pertanggungjawaban si penabrak. Namun, panjangnya barisan kendaraan di belakang, menyebabkan Mat Bulbit tidak enak hati bila peristiwa itu sampai mengganggu perjalanan pengendara lain yang tidak punya sangkut paut dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
Mat Bulbit, lalu meminta si penabrak meminggirkan mobilnya supaya. Dan bersamaan dengan itu, ia memindahkan mobilnya ke pinggir jalan. Namun, baru saja satu putaran roda mobilnya bergerak ke pinggir jalan, tiba-tiba mobil si penabrak langsung melesat melarikan diri dengan kecepatan tinggi. Merasa dicurangi, Mat Bulbit berusaha mengejar si penabrak. Rupanya si penabrak yang pengecut itu sudah bulat untuk kabur. Dengan nekatnya dia terabas jalur kanan untuk melarikan diri. Beberapa pengendara sepeda motor meneriakinya lantaran hampir saja membahayakan mereka. Akhirnya Mat Bulbit membiarkan orang itu melarikan diri. Tarikan nafas panjang disertai ucapan istighfar keluar dari mulut Mat Bulbit. Ia tidak percaya bahwa ternyata ada orang yang bermental pengecut seperti itu. Mental seperti itulah yang mungkin menyebabkan bangsa ini sulit keluar dari keterpurukan.

*****
Sabtu pagi di bulan November 2012, Mat Bulbit berangkat ke Bogor untuk suatu keperluan di Institut Pertanian Bogor (IPB) Baranangsiang. Sepanjang jalan tol menuju Bogor hujan turun, tapi tidak terlalu deras. Namun demikian, semua pengendara harus hati-hati karena jalan licin. Beberapa kendaraan menyalakan lampu agar mobil yang ada di depan dan belakangnya dapat terlihat lebih jelas.
Sebuah mobil minibus berjalan santai di lajur paling kanan. Di belakangnya adalah mobil Mat Bulbit. Mobil tersebut berjalan lambat. Mestinya mobil itu berjalan di lajur kiri atau tengah, sehingga tidak menghalangi laju kendaraan yang akan mendahuluinya. Mat Bulbit menyalakan lampu dim beberapa kali sebagai tanda akan mendahului. Namun, mobil tersebut tetap di lajur kanan. Karena tidak diberi kesempatan untuk mendahului dari sebelah kanan, akhirnya Mat Bulbit mangambil lajur tengah untuk mendahului mobil tersebut. Ketika sudah berhasil mendahului, tiba-tiba mobil tersebut menyalakan lampu dim berkali-kali, seolah-olah dia tidak rela mobilnya didahului Mat Bulbit. Dan benar, mobil itu lalu mengejar Mat Bulbit dan menyalip dari sebelah kiri dengan kasar. Setelah itu, si pengendara memperlambat laju mobilnya dan dengan sengaja menghalang-halangi mobil Mat Bulbit hingga memasuki arah Bogor. Si pengedara mobil terus melaju ke arah Ciawi, sedangkan Mat Bulbit menuju Bogor. Sepanjang jalan menuju pintu tol Bogor, pikiran Mat Bulbit dipenuhi tanda tanya. Mengapa si pengendara mobil begitu marahnya kepada Mat Bulbit? Padahal berdasarkan etika di jalan raya, orang itulah yang salah lantaran mengendarai mobil dengan lambat di lajur cepat. Hingga saat ini, Mat Bulbit belum menemukan jawabannya.

Lagi, Pencuri Gigit Jari

22 Nov 2012 0 comments


Setiap orang diperintah oleh Allah Swt. untuk mencari nafkah yang halal lagi baik (halalan thoyyiban). Kerja apa saja yang penting halal dan mendapatkan hasil baik. Oleh karena itu, jenis pekerjaan tidak boleh menjadi halangan bagi seseorang untuk mencari nafkah. Akan tetapi, ada orang-orang tertentu yang punya pikiran sangat sempit. Mereka memilih jenis pekerjaan yang ringan tapi dalam waktu singkat dapat menghasilkan uang banyak. “Resiko ditanggung belakangan,” kata mereka.
Maka muncullah jenis pekerjaan seperti berjudi, merampok, mencuri, menculik dengan meminta tebusan, bandar atau pengedar narkoba, penipuan, dan masih banyak pekerjaan sejenis yang dapat menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat. Kalau mau didata, hampir semua pekerjaan ringan dan dalam waktu singkat dapat menghasilkan uang banyak, adalah pekerjaan-pekerjaan yang diharamkan oleh agama, atau syubhat. Salah satu “pekerjaan” yang mereka anggap cepat menghasilkan uang adalah pencurian dengan cara menggembosi ban kendaraan calon korban.
Selasa kemarin, Mat Bulbit pulang dari kantor. Lantaran banyak pekerjaan, ia baru keluar kantor usai shalat Maghrib. Sepanjang perjalanan, langit masih menumpahkan air hujan cukup lebat. Genangan air dan curahan air hujan membatasi pandangan mata, membuat setiap pengendara harus berhati-hati.
Keluar pintu tol menuju arah ke rumah, hujan reda, namun di beberapa bagian jalan masih terdapat genangan air sebagai tanda hujan baru saja berhentu. Arus kendaraan menuju ke rumah, padat merayap. Mat Bulbit menepikan mobilnya lantaran hendak membeli kabel dan lampu neon untuk menerangi jalan di depan rumahnya yang agak gelap. Tak kurang dari 10 menit, Mat Bulbit sudah meninggalkan toko penjual alat-alat elektronik.
Lalu lintas di jalan masih padat merayap. Mat Bulbit mengemudikan mobilnya dengan santai. Tepat di pintu gerbang perumahan, seorang pengendara sepeda motor tiba-tiba membunyikan klakson berkali-kali. Mat Bulbit belum tahu bahwa klakson itu ditujukan kepadanya, hingga orang itu mendekati mobilnya dan berteriak-teriak sambil menunjuk ke bagian depan mobil Mat Bulbit.
Jalan menuju komplek perumahan tidak terlalu lebar, tapi cukup untuk dilalui dua mobil bila berpapasan. Mat Bulbit menepikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang Masjid bagian samping, lalu turun dan langsung mengunci pintu mobil. Ia memeriksa bagian depan mobil yang ditunjuk si pengendara motor, lalu ke bagian belakang. Ternyata ban belakang sebelah kiri berdesis mengeluarkan angin. Sebuah paku terlihat jelas menancap di ban mobil. Dalam waktu tidak kurang dari satu menit, ban mobil sudah gembos.
Mat Bulbit mencari-cari pengendara sepeda motor yang memintanya berhenti, namun sudah tidak tampak lagi. Dia curiga, jangan-jangan orang itu bagian dari sindikat pencurian dengan modus penggembosan ban mobil. Mat Bulbit memperhatikan gerak-gerik setiap pengendara motor yang berhenti di dekat mobilnya. Seseorang membantunya mencabut paku yang menancap di ban mobil. Ternyata benar dugaan Mat Bulbit. Paku itu bukan paku biasa, tapi paku yang terbuat dari rangka payung. Bila paku seperti itu menancap di ban mobil, maka udara dari dalam ban mobil dapat keluar tanpa hambatan. Mat Bulbit menduga paku itu ditancapkan ke ban mobilnya ketika dia membeli kabel dan lampu neon.
Mat Bulbit menelpon istrinya untuk meminta bantuan tetangga rumah yang berprofesi sebagai tukang ojek untuk membantu mengganti ban mobil yang gembos dengan ban serp. Satu hal yang selalu diingat Mat Bulbit dalam kondisi seperti itu, yaitu mengunci pintu kendaraan. Setelah ban mobil diganti, Mat Bulbit langsung menuju rumahnya. Dia yakin komplotan pencuri yang hendak mengambil sesuatu dari dalam mobilnya gigit jari. Gagal maning, gagal maning. (Bekasi, 20 November 2012).

Meski Demam, Tetap Melontar Jumrah Sendiri

10 Nov 2012 0 comments


Sejak awal Mat Bulbit dan istri berniat berangkat haji dengan fasilitas regular, agar bisa berlama-lama beribadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Banyak jamaah satu rombongan yang tidak menyangka kalau Mat Bulbit anggota DPR RI. Karena kebanyakan pejabat menunaikan ibadah haji dengan menggunakan fasilitas khusus atau yang disebut Haji Plus. Alhamdulillah, pelaksanaan ibadah haji 1428 H bertepatan dengan waktu reses akhir tahun, yaitu pertengahan Desember 2007 hingga pertengahan Januari 2008.
Pada musim haji 1428 Hijriyah (2007-2008), Mat Bulbit dan istri tergabung dalam kloter 58 yang berasal dari Bekasi. Rombongan Mat Bulbit termasuk gelombang kedua, sehingga langsung berangkat menuju Mekkah Al-Mukarramah. Mat Bulbit bersyukur, perjalanan haji berlangsung lancar hingga di tempat penginapan di kawasan Misfalah, kira-kira dua kilometer dari Masjidil Haram. Setiap hari Mat Bulbit dan istrinya berjalan kaki ke Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat berjamaah. Ibadah Umrah pun selesai dilaksanakan.
Delapan Zhulhijjah, seluruh jamaah haji bersiap-siap untuk melaksanakan rangkaian ibadah Haji. Mulai dari Wuquf di Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah hingga terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah), Mabit di Muzdalifah (tanggal 10 Dzulhijjah malam), Mabit di Mina (tanggal 11-13 Dzulhijjah), dan melontar Jumrah.
Usai bermalam di Muzdalifah, pagi harinya seluruh jamaah haji bersiap-siap berangkat menuju Mina untuk melaksanakan mabit. Antrian jamaah di pintu-pintu keluar Muzdalifah tampak menyemut. Sebagian jamaah tampak ada yang kurang sabar menunggu giliran menaiki bus yang disediakan pihak penyelenggara haji.
Rombongan Mat Bulbit termasuk yang sabar menunggu sampai benar-benar mendapat giliran menaiki bus. Sengatan terik matahari membakar kulit. Keringat mulai membasahi tubuh. Beberapa jamaah tampak ada yang mulai kurang sabar dan gelisah lantaran hingga jam 10 pagi belum juga mendapatkan bus, sementara jamaah yang tinggal di Muzdalifah sudah terlihat sedikit. Padang Muzdalifah yang pada waktu malam dipadati jamaah, mulai lengang. Baru sekitar jam 11 siang, rombongan Mat Bulbit mendapatkan bus yang akan membawa kami ke Mina, meski rombongan kami tidak semuanya dalam bus yang sama. ‘Yang penting ke Mina,’ pikir Mat Bulbit.
Bus yang membawa rombongan Mat Bulbit mulai memasuki Mina. Doa pun dilantunkan. “Ya Allah tempat ini adalah Mina, maka anugerahilah kami apa yang telah Engkau anugerahkan kepada orang-orang yang dekat dan taat kepadaMu.” Kira-kira jam satu siang, rombongan tiba di  tenda yang telah disediakan. Cuaca di Mina waktu itu cukup dingin. Bahkan terasa sangat dingin ketika angin bertiup kencang dan menerobos celah-celah tenda. Beberapa jamaah pria terlihat merapatkan balutan kain ihramnya ke seluruh tubuh untuk mengurangi rasa dingin. Seluruh jamaah di tenda tengah menunggu giliran melontar Jumrah, yang menurut ketua rombongan akan dilakukan pada malam hari, ba’da Isya.
Usai shalat jama’ qashar taqdim Maghrib dan Isya, serta makan malam, rombongan bersiap-siap untuk berangkat menuju Jamarat. Alhamdulillah, perjalanan lancar dan tidak menemui kendala. Begitu juga ketika melontar Jumratul ‘Aqabah. Kekhawatiran terulangnya tregedi Mina pada tahun 2006 tidak terjadi. Semuanya berjalan lancar, hingga rombongan kembali ke tenda.
Raut berseri tampak di wajah para jamaah usai melontar Jumrah. Ucapan takbir, tahmid, dan tahlil tak henti-hentinya dilantunkan para jamaah, tanda syukur atas pertolongan Allah Swt. yang memudahkan perjalanan kami. Di sudut-sudut dan di pinggir-pinggir tenda, jamaah pria melakukan tahallul dengan mencukur habis rambut kepalanya. Termasuk saya. Rambut di kepala Mat Bulbit habis alias gundul dan berharap setiap helai rambut yang dicukur menjadi cahaya di hari Kiamat, sebagaimana doa yang dilantunkan ketika tahallul, “Allahunnaj’al likulli sya’ratin nuuran yaumal qiyaamah” (Ya Allah, jadikanlah untuk setiap helai rambut yang aku cukur sebagai cahaya pada hari Kiamat).
Kira-kira jam 11 malam Mat Bulbit dan beberapa jamaah satu rombongan selesai menggunduli kepala. Dia pun bergegas mandi, karena badan terasa lengket oleh keringat usai melontar Jumrah. Cuaca malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Angin bertiup kencang hingga menimbulkan suara seperti siulan.
Hawa dingin seketika hilang, ketika guyuran air hangat dari shower kamar mandi membasahi kepala dan seluruh tubuh. Namun, usai mandi tiba-tiba kepala Mat Bulbit terasa berat. Hawa dingin seperti masuk melalui kepala yang botak hingga ke seluruh tubuh. Seketika itu juga seluruh tubuh menggigil dan terasa lemas. Malam itu Mat Bulbit benar-benar tidak bisa tidur lantaran demam. Meski seluruh tubuh tertutup jaket, penutup kepala dan wajah (kupluk), sarung tangan dan kaus kaki, rasa dingin dan menggigil tidak juga berkurang. Sayup-sayup terdengar ketua rombongan mengumumkan bahwa esok hari tanggal 11 Dzulhijjah kira-kira pukul 13.30 waktu setempat, usai shalat Zhuhur dan Ashar jama’ qashar taqdim,  rombongan akan melontar Jumrah yang kedua, yaitu Jumratul Ula, Wustha, dan ‘Aqabah.
Mat Bulbit berdoa agar Allah Swt. segera menyembuhkan penyakitnya, supaya esok pagi bisa melontar Jumrah yang kedua. Obat demam yang diberikan dokter kloter belum menunjukkan hasil. Hingga usai shalat Zhuhur dan Ashar kondisi kesehatan Mat Bulbit belum juga membaik. Istrinya menyarankan agar Mat Bulbit tidak berangkat melontar Jumrah, dan menawarkan diri untuk menggantikan pelaksanaan ibadah tersebut. Tapi Mat Bulbit bersitekad untuk melaksanakannya sendiri. Mat Bulbit terus berdoa kepada Allah agar diberikan kesehatan sehingga bisa melaksanakan semua rangkaian ibadah haji yang baru pertama kali dilaksanakannya.
Di tengah-tengah perasaan harap dan cemas. Tiba-tiba ketua rombongan mengumumkan bahwa pelaksanaan melontar Jumrah diundur menjadi pukul 16.00 waktu setempat dengan alasan keamanan. Memang melontar Jumrah tanggal 11 Dzulhijjah lebih utama dilaksanakan ba’da zawal (setelah tergelincir matahari), sehingga diprediksi pada pagi hari jamaah akan membludak, dan dikhawatirkan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Mat Bulbit bersyukur, dengan demikian masih ada waktu untuk memulihkan kesehatan hingga waktu yang ditentukan.
Waktu terus berlalu. Namun, hingga kira-kira pukul 15.30, kesehatan Mat Bulbit belum juga pulih. Badan masih terasa menggigil dan lemas. Lantunan doa untuk kesehatan diri semakin menguat. Dia tidak mau kalau ada rangkaian ibadah hajinya digantikan orang lain. Mat Bulbit hanya ingin setiap rangkaian ibadah haji dilakukan oleh dirinya sendiri.
Seluruh jamaah mulai bersiap-siap untuk melaksanakan ibadah melontar Jumrah. Istri Mat Bulbit kembali mendatanginya yang terbaring lemas dan menyarankan untuk tidak berangkat. Ia menawarkan untuk mem-badal (menggantikan) ibadah tersebut untuk Mat Bulbit. Mat Bulbit tidak mengiyakan dan hanya berkata, “Lihat saja nanti.” Namun, Mat Bulbit tetap berharap untuk bisa melaksanakannya sendiri. Di tengah-tengah persiapan jamaah untuk melontar Jumrah, tiba-tiba ketua rombongan mengumumkan kembali bahwa pelaksanaan melontar Jumrah diundur menjadi pukul 19.30 waktu setempat. Alasannya, agar para jamaah makan malam dahulu sehingga memliki cukup tenaga untuk melontar Jumrah. Mat Bulbit pun kembali bersyukur, ternyata Allah Swt. masih memberi kesempatan kepadanya untuk melaksanakan sendiri ibadah tersebut.
Seluruh tubuh Mat Bulbit masih tertutup jaket, kupluk, sarung tangan, dan kaus kaki, lantaran tidak tahan dingin. Obat-obatan yang diberikan dokter kloter belum juga menampakkan hasil. Mat Bulbit terus berdoa, hingga dirinya merasa yakin bahwa dua kali penundaan yang terjadi disebabkan karena Allah Swt. ingin memberi kesempatan kepadanya untuk melontar Jumrah dengan tangannya sendiri, sesuai keinginan dan doanya.
Dan…Alhamdulillah, ketika rombongan tengah bersiap-siap untuk melaksanakan Jumratul Ula, Wustha, dan ‘Aqabah, tiba-tiba kesehatan Mat Bulbit berangsur-angsur pulih. Rasa menggigil dan lemas di tubuhnya sedikit demi sedikit hilang. Balutan jaket, kupluk, sarung tangan, dan kaus kaki sudah bisa dilepas. Tubuh sudah tidak terasa menggigil lagi. Meski belum pulih 100 persen, tapi Mat Bulbit merasa mampu dan siap melaksanakan ibadah melontar Jumrah. Alhamdulillah, dengan izin Allah Swt. akhirnya Mat Bulbit dapat melaksanakan semua rangkaian ibadah haji dengan tangannya sendiri.
Dari peristiwa ini Mat Bulbit mendapat hikmah bahwa kemudahan akan selalu menyertai orang-orang yang ingin berbuat baik dan mendekat kepada Allah Swt. meski pada awalnya terdapat kendala dan hambatan. Wallahu a’lam bishshawab.

 
Syamsu Hilal © 2011 | Dikunceni Kang Zack, Kunjungi Juga Suswono, Kementan dan Atang Trisnanto