Esensi Ibadah Haji

13 Sep 2015


Oleh Syamsu Hilal



Ibadah haji adalah ibadah yang menghadirkan simbol persamaan derajat manusia di sisi Allah Swt. Ibadah haji juga menampilkan simbol persatuan umat Islam. Bayangkan sebuah pemandangan orang-orang dari berbagai suku bangsa dari berbagai negara di seluruh penjuru dunia berdatangan ke satu pusat pertemuan melalui seribu satu jalan. Wajah-wajah mereka berbeda-beda, warna kulit dan bahasa yang mereka gunakan juga berbeda. Namun, ketika sampai pada suatu garis perbatasan yang disebut dengan miqat, mereka semua melepaskan pakaian kebangsaannya, lalu mereka mengenakan pakaian seragam putih-putih yang sama potongannya. Setelah mengenakan kain ihram, seruan yang keluar dari mulut mereka sama, yaitu talbiah. Mereka bergerak menuju satu titik, yaitu Ka’bah Baitullah yang diberkahi.

Selain itu, ibadah haji selalu menghidupkan kenangan Rabbani yang tak pernah dilupakan manusia sepanjang masa. Kenangan sebuah keluarga yang tidak pernah memedulikan apa pun di dalam menjalankan perintah Allah. Kenangan seorang ayah yang harus memendam kerinduan terhadap anak yang diinginkannya untuk diserahkan kembali kepada Sang Pemilik anak, yaitu Allah Swt. Kenangan seorang anak yang menyerahkan dirinya menjadi kurban untuk Allah. Kenangan seorang ibu yang yakin sepenuhnya akan perlindungan Allah Swt. tatkala ditinggalkan suaminya di sebuah daerah yang tidak ada siapa-siapa dan tidak ada apa-apa.

Sulitnya menempuh perjalanan haji seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk beribadah sepenuh hati dan sepenuh waktu, bermunajat kepada Allah seraya memohon ampun atas segala khilaf dan salah. Perjalanan haji adalah perjalanan berdimensi ukhrowi, bukan perjalanan duniawi untuk bersenang-senang atau plesiran. Oleh karena itu, kesempatan berhaji yang diberikan Allah Swt. tidak disia-siakan dengan menghabiskan waktu melakukan aktivitas yang tidak memberi nilai ibadah di sisi Allah Swt.

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS Al-Baqarah: 197).

Semoga umat Islam yang berhaji pada tahun ini mendapat haji mabrur yang mendapatkan balasan Surga dari Allah Swt. Amin. Wallahu a’lam bish shawab.

0 comments:

Posting Komentar

 
Syamsu Hilal © 2011 | Dikunceni Kang Zack, Kunjungi Juga Suswono, Kementan dan Atang Trisnanto